Rabu, 14 Februari 2018

TARI CIDAYU (CINA, DAYAK, MELAYU)

https://www.youtube.com/watch?v=x5EzmOMUNtw&t=149s

makalah perkembangan peserta didik

MAKALAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
Diajukan untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Perkembangan Peserta Didik
Program studi Pendidikan Ekonomi REGULER A



Description: D:\POTO\LAMBANG\LogoUntanGIF.gif 



Disusun Oleh:
NAMA : YUSRO ROBIKA  
NIM : F1031161044        



FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2017



KATA PENGANTAR

      Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas limpahan anugerah Nya,sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Perkembangan Peserta Didik, penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan di masa akan mendatang.
      Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan penulis selaku penyusun, dan mohon maaf atas segala kekurangan yang ada, terima kasih.






































DAFTAR ISI




Kata pengantar.................................................................................................................................................................
Daftar isi.............................................................................................................................................................................
BAB 1
  Pembahasan....................................................................................................................................................................
  Daftar pustaka.................................................................................................................................................................








































BAB I


1.Pembahasan
   
 Pengertian Perkembangan
           Pada dasarnya perkembangan menunjuk kepada perubahan sistematik  tentang funhgsi-fungsi fisik dan psikis. Perubahan fisik meliputi perkembangan  biologis dasar sebagai hasil dari konsepsi (pembuahan ofum oleh sperma) dan hasil dari interaksi proses biologis dan genetika dengan lingkungan. Sementara perubahan psikis menyangkut keseluruhan karakteristik psikologis individu, seperti perkembangan kognitif, emosi, sosial dan moral.
       Perkembangan merupakan  proses perubahan kuantitatif dan kualitatif  individu dalam rentang kehidupannya, mulai dari masa konsepsi, masa bayi, masa kanak-kanak, masa remaja sampai masa dewasa. Dengan demikian, perkembangan dapat diartikan sebagai “ Suatu proses perubahan dalam diri individu atau organisme, baik fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah) menuju tingkat kedewasaan atau kematangan yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan. Yang dimaksud dengan sistematis, progresif dan berkesinambungan adalah sebagai berikut :
1. Sistematis, berarti perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling ketergantungan atau saling mempengaruhi atara bagian-bagian organisme (fisik dan psikis) dan merupakan suatu kesatuan yang harmonis. Contoh prinsip ini, seperti kemampuan berjalan kaki siring dengan matangnya otot-otot kaki, atau berkembangnya minat untuk memperhatikan lawan jenis seiring dengan matangnya hormone seksual.
2. Progresif, berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat,mendalam atau meluas, baik secara kuantitatif (fisik) maupun secara kualitatif (psikis). Contohnya, seperti terjadinya perubahan proporsi dan
ukuran fisik anak (dari pendek menjadi tinggi, dari kecil menjadi besar dan perubahan pengetahuan atau kemampuan anak, dari yang sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai dari mengenal huruf dan angka sampai kepada kemampuan membaca, menulis dan berhitung).
3. Berkesinambungan, berarti perubahan pada bagian atau fungsi organism itu berlangsung secara berurutan dan beraturan. Contohnya, untuk dapat berjalan, seorang anak lebih dahulu telentang, tengkurap, duduk merangkak dan berdiri, sedangkan untuk anak dapat berbicara didahului dengan meraban dan untuk mecapai masa dewasa harus melalui masa konsepsi, bayi, anak dan remaja.





Ciri-Ciri Perkembangan
            Mengenai cirri-ciri perkembangan dalam diri individu atau organisme dapat diuraikan sebagai berikut : 
1. Terjadinya perubahan ukuran dalam aspek fisik (tinggi badan, berat badan dan organ-organ tubuh lainnya) sedangkan aspek psikis (semakin bertambahnya perbendaharaan kata dan matangnya kemampuan berpikir, mengangat serta serta menggunakan imajinasi kreatif).
2. Terjadinya perubahan propersi dalam aspek fisik (proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya dan pada usia remaja proporsi tubuh mendekati proporsi tubuh dewasa, sedangkan pada aspek psikis (perubahan imajinasi dari yang fantasi ke realitas dan perubahan perhatiannya dari yang tertuju kepada dirinya sendiri perlahan-lahan meluas  kepada orang lain terutama kepada teman sebayanya).
3. Lenyapnya tanda-tanda lama dalam aspek fisik (lenyapnya kelenjar thymus/kelenjar kanak-kanak yang terletak pada bagian dada rambut halus dan gigi susu) sedangkan pada  aspek psikis (lenyapnya masa mengoceh/meraban bentu gerak gerik kanak-kanak seperti merangkak dan perilaku impulsive seperti melakukan sesuatu sebelum berpikir).
4. Munculnya tanda-tanda baru dalam aspek fisik (tumbuh/pergantiuan gigi dan matangnya organ-organ seksual pada usia remaja baik primer seperti menstruasi pada wanita dan mimpi basa pada pria maupun sekunder seperti membernya npinggul atau buah dada pada wanita dan tumbuhnya kumis serta perubahan suara pada wanita) sedangkan pada aspek psikis (berkembangnya rasa ingin tau terutama yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, lingkungan alam,  nilai-nilai moral dan agama). 

Prinsip-Prinsip Perkembangan
     Uraian mengenai prinsip prinsip perkembangan individu atau organism
adalah sebagai berikut :
1. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti sepanjang hidup individu
2. Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi
3. Perkembangan menikuti pola atau arah tertentu
4. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan
5. Setiap fasr perkembangan mempunyai cirri khas
6. Setiap individu yang normal akan mengalami tahapan atau fase
perkembangan

  





 Definisi Peserta Didik


          Peserta didik merupakan sumberdaya utama dan terpenting dalam proses pendidikan formal. Tidak ada peserta didik, tidak ada guru. Peserta didik bisa belajar tanpa guru, Sebaliknya, guru tidak bisa mengajar tanpa peserta didik. Karenanya, kehadiran peserta didik menjadi keniscayaan dalam proses pendidikan formal atau pendidikan yang dilembagakan dan menuntut interaksi antara pendidik dan peserta didik. Tentu saja, optimasi pertumbuhan dan perkembangan peserta didik diragukan perwujudannya, tanpa kehadiran guru yang profesional.
     Di dalam UU No. 20 Tahun 2003 Tentang sistem pendidikan Nasional (Sisdiknas), peserta didik didefinisikan sebagai setiap manusia yang berusaha mengembangkan potensi diri melalu proses pembelajaran pada jalur pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis tertentu. Peserta didik juga dapat didefinisikan sebagai orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi dasar yang masih perlu dikembangkan.Potensi dimaksud umumnya dari tiga kategori, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Karakteristik Peserta Didik
       Setiap peserta didik memiliki ciri dan sifat atau karakteristik yang diperoleh dari linhkungan. Agar pembelajaran dapat encapai hasil yang optimalguru perlu memahami karakteristik peserta didik. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik yang dimiliki sejak lahir baik menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Untuk mengetahui siapa peserta didik, perlu dipahami bahwa sebagai manusia yang sedang berkembang menuju ke arah kedewasaan memiliki beberapa karakteristik.
      Menurut Tirtaraharja, 2000 ( Uyoh Sadullah, 2010) mengemukakan 4 karakteristik yang dimaksudkan, yaitu :
a.       Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas sehingga merupakan makhluk yang unik.
b.      Individu yang sedang berkembang. Anak mengalami perubahan dalam dirinya secara wajar.
c.       Individu yang membutuhkan bimbingan individual.
d.      Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri dalam perkembangannya peserta didik memiliki kemampuan untuk berkembang kearah kedewasaan.
Dalam mengungkapkan ciri-ciri anak didik, Edi Suardi (1984) mengemukakan 3 ciri anak didik :
1.      Kelemahan dan ketidakberdayaan.
Anak ketika dilahirkan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya untuk dapat bergerak harus melalui berbagai tahapan. Kelemahan yang dimiliki anak adalah kelemahan rohaniah dan jasmaniah, misalnya kelemahan rohaniahnya tidak mampu membedakan keadaan yang berbahaya ataupun menyenangkan sedanagkan kelemahan jasmaniahnya tidak kuat gangguan cuaca. Kelemahan dan ketidakberdayaan anak makin lama makin hilang karena berkat bantuan dan bimbingan pendidik atau yang disebut dengan pendidikan. Pendidikan akan berhenti manakala kelemahan dan ketidakberdayaan sudah berubah menjadi kekuatan dan keberdayaan, yaitu suatu keadaan yang dimiliki oleh orang dewasa. Pendidikan justru ada karena adanya ciri kelemahan dan ketidakberdayaan tersebut.
2.      Anak didik adalah makhluk yang ingin berkembang.
Keinginan berkembang yang menggantikan ketidakmampuan pada saat anak lahir merupakan karunia yang besar untuk membawa mereka ke tingkat kehidupan jasmaniah dan rohaniah yang tinggi, lebih tinggi dari makhluk lainnya. Keinginan berkembang mendorong anak untuk giat, itulah yang menyebabkan adanya kemungkinan yang disebut pendidikan. Tanpa keinginan berkembang pada anak, akan menjadikan tidak ada kemauan tidak mempunya vitalitas, tidak giat bahkan barang kali menjadi malas dan acuh tak acuh.
3.      Anak didik yang ingin jadi diri sendiri.
Anak didik ingin menjadi diri sendiri, hal itu penting baginya karena untuk dapat bergau; dalam masyarakat. Seseorang harus merupakan diri sendiri, orang seorang atau pribadi. Tanpa itu manusia akan menjadi manusia penurut, dan manusia yang tidak punya pribadi. Pendidikan yang bersifat otoriter bahkan mematikan pribadi anak yang sedang tumbuh.
Asosiasi Nasional Sekolah Menengah ( Ntional Association of High School) Amerika Serikat (1995) mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan peserta didik dilihat dari dimensi pengembangannya, yaitu seperti berikut ini.
·         Kebutuhan intelektual, di mana peserta didik memiliki rasa ingin tahu, termotivasi untuk mencapai prestasi saat ditantang dan mampu berpikir untuk memecahkan masalah-masalah yang kompleks.
·         Kebutuhan siosial, di mana peserta didik mempunyai harapan yang kuat untuk memiliki dan dapat diterima oleh rekan-rekan mereka sambil mencari tempatnya sendiri di dunianya. Mereka terlibat dalam membentuk dan mempertanyakan identitas mereka sendiri pada berbagai tingkatan.
·         Kebutuhan fisik, di mana peserta didik “jatuh tempo” perkembangan pada tingkat yang berbeda dan mengalami pertumbuhan yang cepat dan tidak beraturan. Pertumbuhan danperubahan fisik atau tubuh menyebabkan gerakan mereka adakalanya canggung dan tidak terkoordinasi.
·         Kebutuhan emosional dan psikologis, di mana peserta didik rentan dan sadar diiri, dan sering mengalami “mood swings” yang tidak terduga.
·         Kebutuhan moral, di mana pesertaa didik idealis dan ingin memiliki kemauan kuat untuk membuat dunia dirinya dan dunia di luar dirinya menjadi tempat yang lebih baik.
·         Kebutuhan homodivinous, di mana peserta didik mengakui dirinya sebagai makhluk yang berketuhanan atau makhluk homoriligius alias insan yang beragama.

Ada empat hal dominan dari karakteristik siswa, antara lain :
1.      Kemampuan dasar, misalnya, kemampuan kognitif atau itelektual, afektif dan psikomotorik.
2.      Latar belakan kultural lokan, status sosial, status eekonomi, agama, dan sebagainya.
3.      Cita-cita,pandangan ke depan, keyakinan diri, daya tahan. Dan lain-lain.

Secara garis besar karakteristik peserta didik dibentuk oleh dua faktor, yaitu :
§  Faktor bawaan merupakan faktor yang diwariskan dari kedua orang tua individu yang menentukan karakteristik fisik dan terkadang intelejensi.
§  Faktor lingkungan merupakan faktor yang menentukan karakteristik spiritual, mental, psikis, dan juga terkadang fisik dan intelejensi. Faktor lingkungan dibagi menjadi tiga. Yaitu keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.
a) Lingkungan keluarga
    Pada lingkungan keluarga sseperti motivasi dari kedua orang tua agar menjadi orang yang sukses kedepannya dan tidak boleh kalah dengan kesuksesan orang tuanya. Kesuksesan teman orang tuanya, kesuksesan anak teman orang tuanya, ingin merubah nasib keluarga yang melarat, motivasi sebagai kakak yang merupakan contoh bagi adik adiknya, motivasi bagi adik yang tidak boleh kalah dengan kesuksesan kakaknya.
b) Lingkungan sekolah
   Dari lingkungan sekolah seperti motivasi ingin menjadi juara kelas, motivasi ingin kaya karena melihat orang tua tamannya yang kaya, ataupun motivasi dari gurunya.
c) Lingkungan masyarakat
    Lingkungan masyarakat misalnya motivasi dari tetangganya yang sukses, motivasi karena keluarganya selalu diremehkan ataupun motivasi karena masyarakatnya diremehkan orang lain.


Peran Guru Dalam Mengembangkan Potensi Peserta Didik
    Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 39 ayat (2) menyebutkan pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. (1) khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam disebutkan bahwa pendidikan mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
     Agar kita dapat mengenali potensi peserta didik, cara yang paling mudah dan sederhana adalah dengan mengajukan pertanyaan, Apa yang paling senang kamu lakukan dan orang lain menilai hasilnya sangat bagus dan luar biasa?”. Sebagian peserta didik mungkin menjawab suka mengerjakan Matematika. Itu artinya dia memiliki kecerdasan logika. Sebagian siswa mungkin merasa senang apabila menulis atau belajar bahasa asing. Artinya, dia memiliki kecerdasan linguistik. Sebagian lagi mungkin senang bermain musik, dan sebagainya.
      Dalam pembelajaran guru sebagai pendidik berinteraksi dengan peserta didik yang mempunyai potensi beragam. Untuk itu pembelajaran hendaknya lebih diarahkan kepada proses belajar kreatif dengan menggunakan proses berpikir divergen (proses berpikir ke macam-macam arah dan menghasilkan banyak alternatif penyelesaian) maupun proses berpikir konvergen (proses berpikir mencari jawaban tunggal yang paling tepat). Dalam konteks ini guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator dari pada pengarah yang menentukan segala-galanya bagi peserta didik. Sebagai fasilitator guru lebih banyak mendorong peserta didik (motivator) untuk mengembangkan inisiatif dalam menjajagi tugas-tugas baru. Guru harus lebih terbuka menerima gagasan-gagasan peserta didik dan lebih berusaha menghilangkan ketakutan dan kecemasan peserta didik yang menghambat pemikiran dan pemecahan masalah secara kreatif.
Bagaimana hal ini dapat diwujudkan pada suasana pembelajaran yang dapat dinikmati oleh peserta didik? Jawabannya adalah pembelajaran menggunakan pendekatan kompetensi, antara lain dalam proses pembelajaran  guru :
1. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bermain dan berkreativitas,
2. Memberi suasana aman dan bebas secara psikologis,
3. Disiplin yang tidak kaku, peserta didik boleh mempunyai gagasan sendiri dan dapat berpartisipasi secara aktif
4. Memberi kebebasan berpikir kreatif dan partisipasi secara aktif.
   Semua ini akan memungkinkan peserta didik mengembangkan seluruh potensi kecerdasannya secara optimal. Suasana kegiatan belajar-mengajar yang menarik,interaktif, merangsang kedua belahan otak peserta didik secara seimbang, memperhatikan keunikan tiap individu, serta melibatkan partisipasi aktif setiap peserta didik akan membuat seluruh potensi peserta didik berkembang secara optimal. Selanjutnya tugas guru adalah mengembangkan potensi peserta didik menjadi kemampuan yang maksimal.


Peserta didik remaja
       Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.
Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.
      Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).
Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu: (1) perkembangan fisik, (2) perkembangan kognitif, dan (3) perkembangan kepribadian dan sosial.

Aspek-aspek perkembangan pada masa remaja

1.      Perkembangan fisik
            Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh,otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).
2. Perkembangan Kognitif
       Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).
Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.
Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001).
Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Yang dimaksud dengan egosentrisme di sini adalah “ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain” (Papalia dan Olds, 2001). Elkind (dalam Beyth-Marom et al., 1993; dalam Papalia & Olds, 2001) mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fabel.
Personal fabel adalah “suatu cerita yang kita katakan pada diri kita sendiri mengenai diri kita sendiri, tetapi [cerita] itu tidaklah benar” . Kata fabel berarti cerita rekaan yang tidak berdasarkan fakta, biasanya dengan tokoh-tokoh hewan. Personal fabel biasanya berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya. Papalia dan Olds (2001) dengan mengutip Elkind menjelaskan “personal fable” sebagai berikut :
    “Personal fable adalah keyakinan remaja bahwa diri mereka unik dan tidak terpengaruh oleh hukum alam. Belief egosentrik ini mendorong perilaku merusak diri [self-destructive] oleh remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya. Misalnya seorang remaja putri berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil [karena perilaku seksual yang dilakukannya], atau seorang remaja pria berpikir bahwa ia tidak akan sampai meninggal dunia di jalan raya [saat mengendarai mobil], atau remaja yang mencoba-coba obat terlarang [drugs] berpikir bahwa ia tidak akan mengalami kecanduan. Remaja biasanya menganggap bahwa hal-hal itu hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya”.
Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993). Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.
Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri invulnerable menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang dewasa adalah sama.

3. Perkembangan kepribadian dan sosial
       Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001).
Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).
Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.
Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).
Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).


Ciri-ciri Masa Remaja
       Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.
1. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.

2. Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.

3. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.

4. Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.

5. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.
Tugas perkembangan remaja
Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara lain :
* memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan
* memperoleh peranan sosial
* menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif
* memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
* mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri
* memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan
* mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga
* membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup

       Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).
Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.

1. Perkembangan Bahasa Peserta Didik Remaja Usia Sekolah Menengah

Pengertian, fungsi dan ketrampilan berbahasa.
Bahasa adalah merupakan media komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan (pendapat/ perasaan, dll) dengan menggunakan symbol-simbol yang disepakati bersama, kemudian kata dirangkai berdasarkan urutan membentuk kalimat yang bermakna dan mengikuti aturan/ tata bahasa yang berlaku dalam suatu komunitas atau masyarakat ( Simolungan 1997, Semiawan 1998 ).
Bahasa itu dibedakan menjadi atas :
1. Bahasa lisan
2. Bahasa tertulis
3. Bahasa isyarat
Ada 3 komponen bahasa :
1. Bentuk atau form yang mencakup sintaksis, morfologi (bentuk) dan fonologi (bunyi bahasa).
2. Isi atau conten yang meliputi makna atau simantgik.
3. Penggunaan atau use yang mencakup pragmatis.
Ketrampilan bahasa memili8ki 4 aspek atau ruang lingkup yaitu;
1. Keterampiln mendengarkan
2. Berbicara
3. Membaca
4. Menulis
Sedangkan keterampilan berbicara meliputi :
• Kemampuan mengungkapkan pikiran , peasaan dan informasi secara lisan mengenai perkenalan, tegur sapa, pengenalan benda, fungsi anggota tubuh, kegiatan bertanya, percakapan, bercerita, deklamasi, memberi tanggapan pendapat/ saran dan diskusi.
• Kemampuan mendengarkan ini meliputi : kemampuan memahami bunyi bahasa, perintah, dongeng-drama, petnjuk, denah, pengumuman, berita dan konsep meteri pelajaran.
Faktor dan kendala dalam mempelajari keterampilan berbahasa
Pola perkembangan keterampilan berbahasa anak pada umumnya sama, tetapi juga ada perbedaan individual, terutama dalam laju perkembangan dan frekuensi atau banyaknya bicara, isi atau topic pembicaraan, hal ini disebabkan oleh beberapa factor antara lain :
1. Kesehatan
2. Kecerdasan
3. Keluarga
4. Keinginan dan dorongan untuk berkomunikasi serta hubungan dengan teman sebaya
5. Kepribadian

2. Perkembangan Emosi Peserta Didik Sekolah Menengah

    Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.

Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja.
Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:

1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
2. Ketidakstabilan emosi.
3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
7. Senang bereksperimentasi.
8. Senang bereksplorasi.
9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Berikut ini dirangkum beberapa permasalahan utama yang dialami oleh remaja.
Permasalahan Fisik dan Kesehatan
Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri. Levine & Smolak (2002) menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan pada dua atau lebih dari bagian tubuhnya, khususnya pada bagian pinggul, pantat, perut dan paha. Dalam sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja ini mengalami ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone, 1998). Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan distres emosi, pikiran yang berlebihan tentang penampilan, depresi, rendahnya harga diri, onset merokok, dan perilaku makan yang maladaptiv (& Shaw, 2003; Stice & Whitenton, 2002). Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapat sebagai pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia (Polivy & Herman, 1999; Thompson et al).
Dalam masalah kesehatan tidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadi adalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah karakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan berskplorasi.
3. Perkembangan Nilai Moral dan SikaP Peserta Didik

 Definisi Nilai
       Nilai-nilai kehidupan adalah norma-normayang berlaku dalam masyarakat, misalnya adat kebiasaan dansopansantun (Sutikna,1988: 5). Sopansantun, adat, dan kebiasaanserta nilai-nilaiyang terkandung dalam Pancasila adalah nilai-nilai hidupyang menjadi peganganseseorang dalam kedudukannyasebagai warga negara Indonesia.
Nilai-nilaiyang terkandung dalam Pancasilayang termasuk dalamsila
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab,antara lain:
1. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban
antarasesama manusia
2. Mengembangkan sikap tenggang rasa
3. Tidak semena-mena terhadap orang lain, berani membela kebenaran dan
keadilan dsb.

Definisi Moral
Moral adalah ajaran tentang baik dan buruk perbuatandan kelakuan, akhlak, kewajiban dansebagainya (Purwadarminto, 1957: 957). Dalam moral diatursegala perbuatanyang dinilai baik dan perlu dilakukan, dansuatu perbuatanyang dinilai tidak baik dan perlu dihindari. Moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara perbuatanyang baik danyangsalah. Dengan demikian, moral merupakan kendali dalam bertingkah laku.
Definisi Sikap
Menurut Gerung,Si k apsecara umum dapat diartikansebagai kesediaan bereaksi individu terhadapsesuatu hal (Mappiare, 1982: 58). Sikap berkaitan dengan motif dan mendasari tingkah lakuseseorang. Tingkah lakuseseorang dapat diramalkan jikasudah mengetahuisikapnya. Tetapisikap belum merupakansuatu tindakan atau aktivitas, tetapi masih berupa kecenderungan tingkah laku.
Hubungan antara Nilai, Moral dan Sikap
Dalam pengamalan Pancasila, moral merupakan control dalam bersikap dan bertingkah lakusesuai dengan nilai-nilai hidupyang ada dalam Pancasila. Nilai-nilai kehidupansebagai norma dalam masyarakatsenantiasa menyangkut persoalan antara baik dan buruk, jadi berkaitan dengan moral.
Dengan demikian, keterkaitan antara nilai, moral,sikap dan tingkah laku akan tampak dalam pengamalan nilai-nilai. Dengan kata lain, nilai-nilai perlu diketahui terlebih dahulu, kemudian dihayati dan didorong oleh moral, baru akan terbentuksikap tertentu terhadap nilai-nilai tersebut dan pada akhirnya terwujudlah tingkah lakuyangsesuai dengan nilai-nilaiyang dimaksud.
Karakteristik Nilai, oral dan ikap Remaja
Nilai-nilai kehidupanyang harus dikuasai remaja tidak hanyasebatas pada adat kebiasaan dan tingkah lakusaja, tetapiseperangkat nilai-nilaiyangsecara keseluruhan terkandung dalam Pancasila. Seorang remaja dalam tugas perkembangannya dituntut untuk dapat mempelajari dan membentuk perilakunya agarsesuai dengan harapan lingkungannya tanpa harus dibimbing, diawasi, didorong, dan diancam dengan hukumanseperti pada waktu anak -anak.
Michel meringkaskan lima perubahan dasar dalam moralyang harus
dilakukan oleh remaja,sebagai berikut:
1. Pandangan individu semakin lama semakin abstrak
2. Keyakinan moral lebih terpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa
yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan yang dominan
3. Penilaian moral menjadi semakin kognitif, sehingga remaja menjadi lebih
berani mengambil keputusan dalam menghadapi berbagai masalah
4. Penilaian moral menjadi kurang egosentris
5. Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti bahwa
penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan
emosi
Menurut Furter (1965) (dalam Monks, 1984: 252), kehidupan moral merupakan problematicyang pokok dalam masa remaja. Maka perkembangan moral perlu diperhatikansejakseseorang dilahirkan.
Dari hasil penyelidikannya Kohlberg mengemukakan enam tahap perkembangan moralyang berlakusecara universal dan dalam urutan tertentu. Ada tiga tingkat perkembangan moral,yaitu:
1. Tingkat 1 : Pra-konvensional
Padastadium1, anak berorientasi pada kepatuhan dan hukuman. Anak
hanya mengetahui bahwa aturan-aturan ditentukan oleh adanya kekuasaan
yang tidak dapat diganggu gugat. Ia harus menurut kalau tidak akan
memperoleh hukuman.
Pada Stadium2, berlaku prinsip Relativistik Hedonism artinya bergantung
pada kebutuhan dan kesanggupanseseorang (hedonistic). Dalam tahap ini,
seorang anak sadar bahwa setiapkejadian mempunyai beberapa segi.
2. Tingkat 2 : Konvensional
Stadium3, menyangkut orientasi mengenai anakyang baik. Anak mulai memasuki umur belasan tahun, dimanaanak memperlihatkan orientasi perbuatan-perbuatanyang dapat dinilai baik atau tidak baik oleh orang lain. Mereka melakukan perbuatan atas dasar kritik dari masyarakat.
Stadium4,yaitu tahap mempertahankan norma-normasocial dan otoritas. Perbuatan baikyang diperlihatkanseseorang merupakan kewajiban untuk ikut melaksanakan aturan-aturanyang ada, agar tidak timbul kekacauan.
3. Tingkat 3 : Pasca-konvensional
Stadium5, merupakan tahap orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungansocial. Pada tahap ini,seseorang harus memperlihatkan kewajibannya kepada masyarakat karena lingkungansocial akan memberikan perlindungan kepadanya. Originalitas remaja juga masih tampak pada tahap ini. Remaja masih mau diatursecara ketat oleh hukum-hukumyang lebih tinggi, walaupun kata hatisudah mulai berbicara.
Stadium6, tahaini disebut Prinsip Universal. Pada tahap ini ada norma etika disamping norma pribadi dansubjektif. Unsur etika disiniyang akan menentukan apayang boleh dan baik dilakukan dansebaliknya. Remaja mengadakan tingka laku-tingkah laku moralyang dikemudikan oleh tanggung jawab batinsendiri.
Menurut Furter (1965), menjadi remaja berarti mnegrti nilai-nilai (Monks,
1984: 257). Mengerti nilai -nilai ini tidak berarti hanya memperoleh pengertian saja
tetapi juga dapat menjalankannya. Jikasudah, berarti remajasudah dapat menginternalisasikan penilaian-panilaian moral, menjadikannyasebagai nilai-nilai pribadi,yang kemudian akan tercermin dalamsikap dan tingkah lakunya.
4. Implikasi Pemenuhan Kebutuhan Remaja Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
yenangkan sedanagkan kelemahan jasmaniahnya tidak kuat gangguan cuaca. Kelemahan dan ketidakberdayaan anak makin lama makin hilang karena berkat bantuan dan bimbingan pendidik atau yang disebut dengan pendidikan. Pendidikan akan berhenti manakala kelemahan dan ketidakberdayaan sudah berubah menjadi kekuatan dan keberdayaan, yaitu suatu keadaan yang dimiliki oleh orang dewasa. Pendidikan justru ada karena adanya ciri kelemahan dan ketidakberdayaan tersebut.







PERTANYAAN
1.      Apa yang dimaksud dengan perkembangan?
Jawab : Perkembangan merupakan  proses perubahan kuantitatif dan kualitatif  individu dalam rentang kehidupannya, mulai dari masa konsepsi, masa bayi, masa kanak-kanak, masa remaja sampai masa dewasa. Dengan demikian, perkembangan dapat diartikan sebagai “ Suatu proses perubahan dalam diri individu atau organisme, baik fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah) menuju tingkat kedewasaan atau kematangan yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan.
2.              Sebutkan prinsip-prinsip perkembangan!
Jawab : Prinsip-Prinsip Perkembangan adalah sebagai berikut :
1. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti sepanjang hidup individu
2. Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi
3. Perkembangan menikuti pola atau arah tertentu
4. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan
5. Setiap fasr perkembangan mempunyai cirri khas
6. Setiap individu yang normal akan mengalami tahapan atau fase perkembangan`
3.              Apa yang dimaksud peserta didik?
Peserta didik dapat didefinisikan sebagai orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi dasar yang masih perlu dikembangkan.Potensi dimaksud umumnya dari tiga kategori, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
4.      Sebutkan 4 karakteristik anak didik menurut Tirtaraharja!
Menurut Tirtaraharja, 2000 ( Uyoh Sadullah, 2010) mengemukakan 4 karakteristik yang dimaksudkan, yaitu :
§  Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas sehingga merupakan makhluk yang unik.
§  Individu yang sedang berkembang. Anak mengalami perubahan dalam dirinya secara wajar.
§  Individu yang membutuhkan bimbingan individual.
§  Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri dalam perkembangannya peserta didik memiliki kemampuan untuk berkembang kearah kedewasaan.
5.      Sebutkan kebutuhan-kebutuhan peserta didik lihat dari dimensi pengembangannya!
Asosiasi Nasional Sekolah Menengah ( Ntional Association of High School) Amerika Serikat (1995) mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan peserta didik dilihat dari dimensi pengembangannya, yaitu seperti berikut ini.
o     Kebutuhan intelektual, di mana peserta didik memiliki rasa ingin tahu, termotivasi   untuk mencapai prestasi saat ditantang dan mampu berpikir untuk memecahkan masalah-masalah yang kompleks.
o   Kebutuhan siosial, di mana peserta didik mempunyai harapan yang kuat untuk memiliki dan dapat diterima oleh rekan-rekan mereka sambil mencari tempatnya sendiri di dunianya. Mereka terlibat dalam membentuk dan mempertanyakan identitas mereka sendiri pada berbagai tingkatan.
o   Kebutuhan fisik, di mana peserta didik “jatuh tempo” perkembangan pada tingkat yang berbeda dan mengalami pertumbuhan yang cepat dan tidak beraturan. Pertumbuhan danperubahan fisik atau tubuh menyebabkan gerakan mereka adakalanya canggung dan tidak terkoordinasi.
o   Kebutuhan emosional dan psikologis, di mana peserta didik rentan dan sadar diiri, dan sering mengalami “mood swings” yang tidak terduga.
o   Kebutuhan moral, di mana pesertaa didik idealis dan ingin memiliki kemauan kuat untuk membuat dunia dirinya dan dunia di luar dirinya menjadi tempat yang lebih baik.
o   Kebutuhan homodivinous, di mana peserta didik mengakui dirinya sebagai makhluk yang berketuhanan atau makhluk homoriligius alias insan yang beragama.
6.      Sebutkan fakto-faktor yang menentukan karakteristik spiritual, mental, psikis, dan juga terkadang fisik dan intelejensipeserta didik dan jelaskan!
Faktor-faktornya antara lain faktor lingkungan dan dibagi menjadi tiga. Yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.
a)      Lingkungan keluarga
  Pada lingkungan keluarga sseperti motivasi dari kedua orang tua agar menjadi orang yang sukses kedepannya dan tidak boleh kalah dengan kesuksesan orang tuanya. Kesuksesan teman orang tuanya, kesuksesan anak teman orang tuanya, ingin merubah nasib keluarga yang melarat, motivasi sebagai kakak yang merupakan contoh bagi adik adiknya, motivasi bagi adik yang tidak boleh kalah dengan kesuksesan kakaknya.
b)      Lingkungan sekolah
  Dari lingkungan sekolah seperti motivasi ingin menjadi juara kelas, motivasi ingin kaya karena melihat orang tua tamannya yang kaya, ataupun motivasi dari gurunya.
c)      Lingkungan masyarakat
   Lingkungan masyarakat misalnya motivasi dari tetangganya yang sukses, motivasi karena keluarganya selalu diremehkan ataupun motivasi karena masyarakatnya diremehkan orang lain.
7.      Sebutkan bumyi UU mengenai sistem ppendidikan nasional!
Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 39 ayat (2) menyebutkan pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. (1) khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam disebutkan bahwa pendidikan mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
8.      Sebutkan proses pembelajaran menggunakan pendekatan kompetensi!
pembelajaran menggunakan pendekatan kompetensi, antara lain dalam proses pembelajaran  guru :
 1. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bermain dan berkreativitas,
 2. Memberi suasana aman dan bebas secara psikologis,
 3. Disiplin yang tidak kaku, peserta didik boleh mempunyai gagasan sendiri dan    dapat berpartisipasi secara aktif
4. Memberi kebebasan berpikir kreatif dan partisipasi secara aktif.
9.       Sebutkan 3 aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds!
Aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001)ada 3, yaitu: (1) perkembangan fisik, (2) perkembangan kognitif, dan (3) perkembangan kepribadian dan sosial.
10.  Sebutkan 3 bentuk bahasa!
Bahasa dibedakan menjadi,bahasa lisan,bahasa tertulis, dan bahasa isyarat.













DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan. 2011. Perkembangan Peserta Didik.Bandung : Alfabeta.
Sadulloh, Uyoh. 2010. Pedagogik (Ilmu Mendidik). Bandung : PT Alifa Beta.
Suardi, Edi. 1984. Pedagogik. Bandung: Angkasa.
Hatinah, Siti. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Bandung : PT Refika Aditama
Papalia, Olds & Feldman. 2001). Human Development (9th ed). New York : Mc Graw Hill